Menapak Bawah Tanah Museum-museum di Jakarta

Museum Bank Mandiri bawah tanah

Ada tiga museum kondang di Jakarta yang memiliki ruang bawah tanah. Museum yang terletak di kawasan Kota dan Gambir itu bernama Museum Sejarah Jakarta alias Museum Fatahillah, Museum Bank Mandiri dan Museum Sejarah Nasional di kompleks Museum Nasional (Monas) . Ada apa saja sih di lapisan terbawah ketiga museum itu? Benarkah ruang bawah tanah itu cukup seram untuk dijelajahi pada malam hari?
Setiap museum identik dengan koleksi kuno dan antik. Tidak heran bila banyak yang berujar museum terasa seram untuk dijelajahi saat sepi apalagi pada malam hari. Kebetulan saya mengunjungi museum-museum itu pada dua kondisi itu. Yang pertama, karena kebetulan saya berkunjung terlalu sore. Kedua, saya tertarik untuk mengikuti acara Jelajah Museum pada Malam Hari yang diadakan Komunitas Jelajah Kota Tua.

bawah tanah museum bank mandiri

Museum Bank Mandiri yang terletak bersebrangan dengan Stasiun Transjakarta ini memamerkan koleksi yang berkaitan dengan dunia perbankan. Ada mesin penghitung yang digunakan pada zaman dahulu, replika mata uang zaman imperalisme dalam bentuk kertas, mesin ketik kuno dan loket bank zaman penjajahan Belanda. Di lantai dua di antaranya tersimpan koleksi mata uang kuno, seragam para front office dan satpam, tempat rapat para pejabat dan ruangan direktur bank.

brankas

Nah, selain dua lantai di atas, ada lagi satu ruangan yang mengarah ke perut bumi. Penasaran, saya tapaki tangga hanya berdua dengan teman saya. Suasana terasa sunyi karena setengah jam lagi museum akan ditutup. Ada beberapa lapis pagar dan beberapa ruangan. Ruangan-ruangan yang menyimpan sejarah masa kelam Indonesia itu ternyata adalah brankas. Ada peti dengan beragam ukuran, mungkin safe deposit untuk perhiasan dan surat-surat berharga. Ada pula loker-loker dan lemari penyimpan dengan kode pengunci. Meski usianya telah bertahun-tahun, brankas itu terlihat kokoh.

mozaik-kaca

Kesunyian itu seolah-olah menyerap kesadaran dan melarutkan saya ke masa lalu. Hal serupa sepertinya dialami oleh rekan saya. Akhirnya kami memutuskan untuk melihat warna-warna indah yang terpancar dari jendela mozaik di lantai dua lalu menyudahi kunjungan kami di Museum Bank Mandiri.

diorama

Sementara museum bawah tanah di Monas telah tiga kali kukunjungi. Anehnya, aku tidak merasa bosan melihat diorama mulai dari zaman purba, zaman kerajaan, imperalisme hingga masa-masa setelah kemerdekaan. Diorama itu bagiku cukup indah dan detail. Mungkin pembuatnya memiliki referensi yang cukup agar dioramanya benar-benar menggambarkan situasi saat itu.

Museum bawah tanah Monas ini berada di tugu bagian sayap kanan dan kiri. Pengunjung harus melewati tangga di bawah patung Diponegoro, ke bagian tiket, menyusuri lorong hingga berada di bawah tangga tugu. Nah di teras tugu itulah ada tangga ke museum sejarah nasional itu.

botol-minum2

Ruang bawah tanah kembali mengetuk semangatku meski saat itu jarum jam telah menunjukkan pukul 21.30 lewat. Aku menebak-nebak dimana tangga menuju ruang bawah di Museum Fatahillah berada. Dan aku sedikit terkejut ketika tangga itu tidak berada di lantai satu melainkan ditempuh dari lantai dua. Lantai dua sendiri tidak begitu banyak memamerkan koleksi. Ruangan ini semacam ruang kantor. Ada kursi-kursi dan meja kayu yang besar dan kokoh. Ruang baca dengan rak bukunya yang tertutup kaca dan pedang yang biasa digunakan untuk memenggal kepala para tahanan.

Di satu ruangan pojok itulah tangga itu berada. Tidak langsung ke ruang bawah tanah melainkan di ruang perantara yang menyimpan koleksi seperti guci-guci kuno dan tempat minum zaman dahulu. Lalu di satu sudut yang menjorok ke bawah si pemandu menceritakan bila itu ruang tahanan untuk wanita. Aku bergidik. Ruangan itu tidak terlalu besar dan langit-langitnya rendah. Bagaimana bisa mereka para tahanan wanita bertahan di ruangan lembab, gelap seperti itu. Padahal lembab adalah salah satu musuh terbesar kaum wanita. Konon, Cut Nyak Dien sendiri pernah ditahan di situ.

apollo

Setelah ruang tahanan wanita di pintu keluar menuju ke kiri terdapat penjara para pria. Ruangannya jauh lebih besar dan terdiri dari beberapa sel. Namun, ukuran yang agak besari tu membuat jumlah tahanan yang berada di situ juga jauh lebih banyak. Ruang di dalamnya sama-sama lembab dan berbau jamur.

Di salah satu sel terlihat tempat mandi yang biasa digunakan para tahanan juga bola batu yang biasa dilekatkan di kaki para tahanan untuk menyulitkannya melarikan diri. Lagi-lagi aku bergidik aku tidak bisa membayangkan penderitaan para pejuang zaman dahulu. Mereka jelas tersiksa sebelum ajal menjemput mereka. Aku terdiam dan tidak banyak bercakap setelah itu hinggameninggalkan bangunan bekas balai kota itu.

About these ads

~ oleh dewipuspasari pada Maret 2, 2009.

20 Tanggapan to “Menapak Bawah Tanah Museum-museum di Jakarta”

  1. bener ga sih museum fatahilah itu angker?
    saya mau kesana sama tmen2 saya, tapii banyak orang yang bilang kalau museum itu anker, apalagi bagian penjara bawah tanah itu? emang bner ga sih,?

  2. aku penasaran gimana gambar penjara bawah tanah lyatin dooong

  3. saya pernah masuk tapi itu lo serem banget ,gelap dan denger ceritanya dulu banyak yang mati terjebak ga bisa keluar masih jaman penjajahan sie katanya, kebenaranya si ga tau soalnya mau tanya sama petugas takut tersinggung

  4. aku penasaran sama safari malammnya.

  5. ih aku pernah kemusium bank mandiri hampir ke semua tempat sampe ketaman lagi……?

  6. perjalanan museumnya mantap…
    ada rekomendasi bagus untuk jalan2 ke musium2 di jakarta?

    Fb: subhanters@yahoo.com

    • Museum di Jakarta yang bagus banyak. Ada Satria Mandala (Museum ABRI) ada senjata-senjata, kendaraan tempur dan diorama. Museum Gajah, koleksinya banyak banget dan luas.Biaya masuknya juga murah sekitar Rp 1500-300

  7. buktinya,,ada orang yang mau uji nyali .dimuseum fatahilah

  8. waktu malam hari qm berkunjung ke museum fatahillah apa qm melihat sosok penampakan disana ?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 51 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: